Rampak
Kenthong Titir Budaya adalah suatu grup kesenian kenthongan yang berasal dari
Desa Karang Duren Kecamatan Bobotsari Kabupaten Purbalingga yang merupakan
sebuah kesenian daerah yang cara memainkannya dengan berkelompok atau
membutuhkan banyak orang. Grup thek-thek Rampak Kentthong Titir Budaya saat ini
masih tetap eksis dan semakin berkmebang dikalangan masyarakat Purbalingga khususnya
masyarakat Bobotsari, hal itu dibuktikan karena Rampak Kenthong Titir Budaya
tersebut sering tampil dan mendapat juara dalam acara-acara tertentu misalnya:
acara hari jadi Kota Purbalingga mendapat juara 3, event tahunan Purbasari
Pancuran Mas mendapat juara 1, hari jadi karang taruna mendapat juara 1,
Cilacap Ekspo Pertamina mendapat juara 3, dan pernah mewakili Purbalingga dalam
acara Parade Seni Semarang. Rampak Kenthong Titir Budaya selain tampil di
kandang sendiri juga pernah tampil di luar kota, yaitu: di Pati, Pekalongan,
Bogor, Pemalang, Purwokerto, dan Semarang.
Rampak Kenthong Titir
Budaya terdiri atas dua bagian, yaitu bagian penari dan pemain musik. Penari
Rampak Kenthong Titir Budaya terdiri dari penari putri, penari putra, penari
tameng, mayoret, dan gita pati. Pemain musik Rampak Kenthong Titir Budaya
sesuai dengan jumlah alat musik kenthongan yaitu ada 30 pemain. Alat musik
kenthongan tersebut terdiri dari angkung, gambang, bedug, simbal, kenthong,
icik-icik, eret-eret, kentur, terompet bambu, dan suling.
Kenthongan
Titir Budaya sangat ingin melestarikan budaya daerahnya di kalangan masyarakat
luas, selain itu Titir Budaya juga mempunyai tujuan untuk mengalihkan perhatian
anak-anak muda di kampung dari kegiatan-kegiatan yang berdampak negatif,
menjaga kerukunan antar pemuda dan mengarahkan para pemuda agar lebih kreatif
dari sebelumnya. Ciri khas dari Titir Budaya adalah terdapat logo Titir Budaya
di setiap alat musik yang digunakan.
Rampak
Kenthong Titir Budaya merupakan grup thek-thek yang mandiri karena dana awal
yang masuk berasal dari hasil ngamen para personil Titir Budaya sendiri, tanpa
ada sponsor yang membantu grup ini bisa tetap eksis dan semakin berkembang
sampai sekarang. Modal awal dari hasil ngamen digunakan untuk membeli peralatan
dan seragam, kemudian grup dikelola melalui kas sampai saat ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar