Senin, 29 September 2014

Grup Thek-Thek "Rampak Kenthong Titir Budaya"



Rampak Kenthong Titir Budaya adalah suatu grup kesenian kenthongan yang berasal dari Desa Karang Duren Kecamatan Bobotsari Kabupaten Purbalingga yang merupakan sebuah kesenian daerah yang cara memainkannya dengan berkelompok atau membutuhkan banyak orang. Grup thek-thek Rampak Kentthong Titir Budaya saat ini masih tetap eksis dan semakin berkmebang dikalangan masyarakat Purbalingga khususnya masyarakat Bobotsari, hal itu dibuktikan karena Rampak Kenthong Titir Budaya tersebut sering tampil dan mendapat juara dalam acara-acara tertentu misalnya: acara hari jadi Kota Purbalingga mendapat juara 3, event tahunan Purbasari Pancuran Mas mendapat juara 1, hari jadi karang taruna mendapat juara 1, Cilacap Ekspo Pertamina mendapat juara 3, dan pernah mewakili Purbalingga dalam acara Parade Seni Semarang. Rampak Kenthong Titir Budaya selain tampil di kandang sendiri juga pernah tampil di luar kota, yaitu: di Pati, Pekalongan, Bogor, Pemalang, Purwokerto, dan Semarang.
Rampak Kenthong Titir Budaya terdiri atas dua bagian, yaitu bagian penari dan pemain musik. Penari Rampak Kenthong Titir Budaya terdiri dari penari putri, penari putra, penari tameng, mayoret, dan gita pati. Pemain musik Rampak Kenthong Titir Budaya sesuai dengan jumlah alat musik kenthongan yaitu ada 30 pemain. Alat musik kenthongan tersebut terdiri dari angkung, gambang, bedug, simbal, kenthong, icik-icik, eret-eret, kentur, terompet bambu, dan suling. 
 Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan bapak Imam di Desa Karang Duren tanggal 18 Mei 2014, selaku ketua dalam Grup Thek-Thek Rampak Kenthong Titir Budaya mengatakan bahwa Rampak Kenthong Titir Budaya berdiri tanggal 29 Agustus 2009. Berawal dari tongkrongan beberapa orang dipinggir jalan sambil menyanyi diiringi beberapa alat musik yang terbuat dari bambu dan kendang terbuat dari karet bekas ban dalam motor dan kemudian beberapa hari setelah itu semakin bertambah personil yang ikut bergabung. Pemuda Desa Karang Duren bersepakat untuk membentuk suatu grup thek-thek dan ide itu mendapat respon positif dari masyarakat sekitar. Pemuda tersebut memberi nama Titir Budaya, “Titir” itu sendiri diambil dari jenis nama sebuah pukulan kenthong dalam  kegiatan ronda kampung, “Budaya” adalah sebagai warisan leluhur yang wajib dilestarikan.
Kenthongan Titir Budaya sangat ingin melestarikan budaya daerahnya di kalangan masyarakat luas, selain itu Titir Budaya juga mempunyai tujuan untuk mengalihkan perhatian anak-anak muda di kampung dari kegiatan-kegiatan yang berdampak negatif, menjaga kerukunan antar pemuda dan mengarahkan para pemuda agar lebih kreatif dari sebelumnya. Ciri khas dari Titir Budaya adalah terdapat logo Titir Budaya di setiap alat musik yang digunakan.
Rampak Kenthong Titir Budaya merupakan grup thek-thek yang mandiri karena dana awal yang masuk berasal dari hasil ngamen para personil Titir Budaya sendiri, tanpa ada sponsor yang membantu grup ini bisa tetap eksis dan semakin berkembang sampai sekarang. Modal awal dari hasil ngamen digunakan untuk membeli peralatan dan seragam, kemudian grup dikelola melalui kas sampai saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar